11 Pertempuran Pasca Kemerdekaan Indonesia dan Upaya Mempertahankan Kemerdekaan - AnakSMA

Monday, July 6, 2020

11 Pertempuran Pasca Kemerdekaan Indonesia dan Upaya Mempertahankan Kemerdekaan

Setelah memrpoklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia secara De Jure menyatakan menjadi negara yang merdeka. Meskipun begitu, Indonesia masih harus mendapatkan komponen De Facto agar sepenuhnya menjadi negara yang merdeka.

Rakyat Indonesia memiliki semangat dalam mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi 1945. Banyak serangan eksternal yang mengganggu jalannya kedaulatan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan. Penjajah yang masih ingin menguasai wilayah Indonesia mendesak rakyat Indonesia untuk menyerahkan kembali Tanah Air Tercinta.

Melihat gangguan eksternal yang masuk ke dalam wilayah Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia tentunya tidak tinggal diam. Banyak pertempuran yang terjadi demi menjaga kemerdekaan Indonesia.



Pertempuran tersebut diantaranya Pertempuran Surabaya, Pertempuran lima hari di Semarang, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Medan Area, Perobekan Bendera Belanda di Surabaya dan Pertempuran Rakyat Makassar, Pertempuran di Jakarta, Insiden Minahasa, Bandung Lautan Api, Pertempuran Margarana, Agresi Militer Belanda 1 dan 2, Pertempuran 5 Hari Palembang, dan Serangan Umum 1949 di Jogjakarta.

Setiap insiden pertempuran memiliki kisah yang begitu penting bagi kita, supaya dapat tahu bagaimana susahnya para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

1. Perobekan Bendera Belanda di Surabaya

Belanda yang masih belum terima dengan pernyataan medeka Indonesia membuat arek-arek Surabaya berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah Presiden Indonesia Pertama, Soekarno, mengeluarkan maklumat yang berisi “mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia”. Masyarkat sangat antusias melaksanakan amanat tersebut.

Tidak ada bendera yang boleh berkibar tanpa izin selain benda nasional Indonesia, sang Merah Putih. Insiden pertumpahan darah terjadi di Surabaya, tepatnya di kawasan Hotel Yamato.

Pada 18 September 1945, Sekutu bersama dengan rombongan Intercross (Palang Merah Internasional) memboncengi Belanda dari AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) ke Surabaya dan transit di Hotel Yamato.

Pada 18 September 1945, Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda di tiang tertinggi Hotel Yamato pada malam hari tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya.

Keesokan Harinya, Arek-arek Surabaya yang melihat bendera Belanda berkibar dengan bebas marah karena telah dianggap menghina kedaulatan negara Indonesia.

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 19 September 1945, Mr. W.V.Ch. Ploegman tewas tercekik oleh Sidik dan Arek-arek surabaya berhasil merobek kain warna biru pada bendera belanda sehingga bendera yang berkibar adalah bendera merah-putih.

Untuk mengenang keberanian Arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dibangun sebuah monumen perjuangan di depan Hotel Yamato.

2. Pertempuran Surabaya

Setelah insiden pengibaran bendera Belanda, insiden pertempuran kembali terjadi di Surabaya. Tanggal 25 Oktober 1945, tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jendral Mallaby mendarat di Surabaya.

Tujuan Sekutu datang ke Surabaya adalah untuk melucuti serdadu Jepang serta membebaskan para interniran. Awalnya Sekutu dan R.M.T.A. Suryo (Gubernur Jawa Timur) sudah menjalin hubungan kerjasama.

Perjanjian antara Sekutu dengan R.M.T.A Suryo adalah sebagai berikut :
1) Inggris berjanji bahwa tidak terdapat angkatan perang Belanda di antara tentara Inggris;
2) Disetujui kerja sama antara kedua belah pihak untuk menjamin ketenteraman dan keamanan;
3) Akan segera dibentuk Biro Kontak (Contact Bureau) agar kerja sama dapat terlaksana sebaik-baiknya;
4) dan Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang.

Namun ketika Sekutu menjalankan pekerjaannya di Surabaya Inggris melanggar perjanjian yang telah ditetapkan.

Tanggal 27 Oktober 1945, Sekutu membuat kerusuhan di wilayah Surabaya. Sekutu menyebarkan pamfelt yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjata hasil rampasan militer Jepang.

Mengetahui Hal tersebut pihak Indonesia mengirimkan intruksi kepada seluruh rakyat surabaya untuk siap siaga penuh menghadapi segala kemungkinan pertempuran yang akan terjadi. Akhirnya, Konflikpun pecah dan terjadi pertempuran hebat antara pejuang Indonesia dengan pasukan Inggris pada tanggal 27-30 Oktober 1945.

Tentara Sekutu menghubungi Presiden Soekarno agar pasukan Inggris tidak mengalami kekalahan total. Namun, dibalik insiden pertempuran tersebut Brigadir Jendral Mallaby terbunuh. Jendral Christison, Panglima Sekutu, meminta kepada pemerintah Indonesia untuk menyerahkan orang-orang yang dicurigai membunuh Jendral Mallaby

Pada 9 Nopember 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum yg berisi “semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan”. Ultimatum tersebut ditolak oleh pejuang Indonesia.

Tanggal 10 November’45 terjadi pertempuran yg sangat dasyat, pasukan Inggris menggempur Surabaya dari darat, laut maupun udara. Pejuang Indonesia dibawah pimpinan Gubernur Suryo dan Sutomo (Bung Tomo) menjaga habis-habisan Surabaya demi kedaulatan negara Indonesia. Peristiwa 10 November ini diperingati sebagai HARI PAHLAWAN.

3. Pertempuran Ambarawa

Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell yang diboncengi oleh NICA mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang. Ketika pasukan Sekutu dan NICA sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para tawanan diberi senjata. Tentu hal ini menyulut kemarahan pihak Indonesia.

Pada 26 Oktober 1945, di Magelang terjadi pertempuran hebat antara pasukan TKR dengan pasukan gabungan Inggris dan NICA. Pertempuran terhenti setelah Soekarno & Brigadir Bethell melakukan perundingan dan memperoleh kata sepakat. Namun ternyata pihak sekutu mengingkari perjanjian, sehingga pada tanggal 23 Nopember - 11 Dessember 1945 terjadi pertempuran sengit di Ambarawa antara TKR & Sekutu.

Pada tanggal 12 Desember 1945, Pertempuran di Ambarawa bertambah panas. Pejuang Indonesia dibawah pimpinan Kolonel Soedirman menyelesaikan pertempuran dengan taktik supit urang, yaitu metode penyeranagan dengan mengepung rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung.

Pertempuran terjadi selama 4 hari, tepatnya pada 15 Desember 1945 Pejuang Indonesia dibawah pimpinan Kolonel Soedirman berhasil menumpas serangan Sekutu di Ambarawa.

Kemenangan pertempuran pasukan TKR di Ambarawa diabadikan dengan sebuah tugu perjuangan bernama “Monumen Palagan Ambarawa”dan 15 Desember diperingati sebagai Hari Jadi TNI Angkatan Darat (TNI-AD) atau Hari Juang Kartika.

4. Pertempuran Lima Hari Semarang

Jepang yang masih singgah di Semarang masih meluncurkan serangan kepada TKR untuk membebaskan tawanan perang. Selain itu beredar rumor bahwa Jepang telah menyebar racun di sumber air minum wilayah Candi di Semarang.

Salah satu dokter bernama Dr. Karyadi mencoba memeriksanya, namun Dr. Karyadi terunuh oleh pasukan Jepang. Terbunuhnya Dr. Karyadi membuat masyarakat Semarang marah. Akhirnya pertempuran pun terjadi.

Pasukan Jepang dipimpin oleh Mayor Kido melawan TKR dan para pejuang Indonesia. Pertempuran mereka berlangsung selama 5 hari, yaitu dari tanggal 15 Oktober sampai 19 Oktober 1945. Peperangan dihentikan karena negosiasi gencatan senjata.

Untuk memperingati peristiwa pertempuran lima hari di Semarang dibangun Monumen peringatan yang diberi nama “Tugu Muda”.

5. Kekacauan di Jakarta

Kondisi Jakarta (masa itu bernama Batavia) pasca kemerdekaan terbilang buruk karena disanalah para petinggi Negara Indonesia terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara diplomatik. Bentrok antara kelompok pro-kemerdekaan dengan kelompok pro-Belanda (NICA) seringkali terjadi.

Bahkan Ketua Komisi Nasional Jakarta, Mr. Mohammad Roem mendapat serangan fisik dari kelompok pro-Belanda. Tak hanya itu, Perdana Menteri Indonesia, Syahrir dan Menteri Penerangan, Mr. Amir Sjarifuddin nyaris terbunuh.

Akhirnya pada 1 Januari 1946 Presiden Soekarno memberikan perintah rahasia kepada Balai Yasa Manggarai untuk menyiapkan keberangkatan kereta api ke Yogyakarta demi menyelamatkan para petinggi negara.

Pada tanggal 3 Januari 1946, Presiden Soekarno dan para staff negara pindah ke Yoggyakarta dan secara sah pula ibu kota negara Indonesia pindah ke Yogyakarta.

6. Perjuangan dan Pertempuran di Minahasa

Setelah mendengar mandat dari Presiden Soekarno mengenai pengibaran Sang Merah Putih, pada tanggal 22 Agustus 1945 rakyat Minahasa yang diprakarsai oleh Dewan Minahasa dan dipimpin oleh Palengkahu langsung melucuti persenjataan Jepang dan mengoper kekuasaan dari Jepang.

Rakyat Minahasa turut melaksanakan perinta Presiden Soekarno dengan mengibarkan bendera Merah Putih di tiap daerah. Namun tak lama setelah itu muncul suatu konflik di Minahasa.

Pada September 1945, Sekutu yang diikuti oleh NICA datang ke Minahasa. Kedatangan NICA kembali membuat masalah di Indonesia. Sekutu dan NICA mengeluarkan suatu perintah larangan pengibaran bendera Merah Putih di Minahasa.

Mengetahui hal tersebut rakyat Minahasa Marah dan pertempuran dengan pihak Sekutu pun terjadi. Rakyat Sulawesi Utara membentuk pasukan perjuangan dengan nama Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) untuk melawan pasukan NICA.

Pada tanggal 14 Februari 1946, para pejuang PPI menyerbu markas NICA yang berada di Teling. Kekuatan Pejuang PPI sangat hebat sehingga berhasil merebut markas NICA dan menahan pasukan NICA.

Pejuang PPI akhirnya menurunkan semua bendera Belanda yang berkibar dan mengibarkan Sang Merah Putih.

7. Pertempuran Medan Area

Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly yang dibonceng NICA mendarat di Medan dengan tujuan untuk mempersiapkan kerusuhan untuk mengambil alih pemerintahan dari tangan Indonesia.

Pada tanggal 13 Oktober1945 para Pejuang Indonesia bersama dengan TKR bertempur melawan Sekutu dan NICA dalam upaya merebut dan mengambil kekuasaan dengan mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dari tangan sekutu.

Pada tanggal 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Medan. Dan pada bulan April 1946, Sekutu berhasil menduduki kota Medan.

Untuk melanjutkan perjuangan di Medan maka pada bulan Agustus 1946 dibentuk pasukan khusus dengan nama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Pasukan ini terus mengadakan serangan terhadap Sekutu di wilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatera terjadi pertempuran.

8. Bandung Lautan Api

Pada Oktober 1945, tentara Sekutu memasuki Kota Bandung ketika para pejuang Bandung sedang melakukan pemindahan kekuasaan dan melucuti persenjataan tentara Jepang. Pada Tanggal 21 November 1945, tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum, agar kota Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Indonesia selambat-lambatnya sampai tanggal 29 November 1945 demi alasan keamanan.

Rakyat Bandung tidak mempedulikan ultimatum tersebut hingga sering terjadi bentrok antara rakyat Bandung dengan Sekutu. Pada tanggal 23 Maret 1946, Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Bandung untuk mengosongkan Bandung bagian Selatan.

Akhirnya pemerintah memberi perintak kepada rakyat Bandung dan TRI (sebelumnya TKR) untuk meninggalkan kota Bandung demi keselamatan Rakyat. Perintah tersebut dijalani oleh rakyat Bandung dan TRI.

Rakyat Bandung dan TRI tidak terima memberikan Kota Bandung secara utuh kepada Sekutu. Pada tanggal 24 Maret 1946 sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka dan meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di daerah selatan Bandung.

Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda jika menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer untuk menghancurkan Kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa pembakaran sebagian tempat di bandung yang dilakukan pada tanggal 23 Maret 1946 diberi nama dengan sebutan Bandung Lautan Api. Untuk mengenang momentum ini didirikan Tugu Bandung Lautan Api.

9. Pertempuran Margarana

Bali juga turut serta dalam menyempurnakan kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu letkol I Gusti Ngurah Rai, salah satu pimpinan di Bali pergi ke Yogyakarta untuk melakukan konsultasi ke Markas Besar TRI.

Ketika letkol I Gusti Ngurah Rai berada di Yogyakarta Belanda mendarat di kawasan Bali, tepatnya pada tanggal 2 sampai 3 Maret 1946. Saat itu, Indonesia tidak memiliki kekuasaan secara diplomatik akibat perundingan Linggardjati.

Berdasarkan hasil perundingan Linggardjati, Belanda secara De Facto mengakuti daerah kekuasaan Republik Indonesia yang diakui hanya terdiri dari Sumatera, Madura dan Jawa saja, sedangkan Bali tidak.

I Gusti Nguarh Rai segera membentuk Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia Sunda Kecil, dengan beberapa tokoh disampingNya yaitu I Gusti Putu Wisnu dan Subroto Aryo Mataram.

Pada tanggal 18 November 1946, tentara Ngurah Rai yang dikenal dengan sebutan Pasukan Cing Wanara menyerang Pasukan Belanda dan berhasil menguasai Tabanan. Mengetahui hal itu, Belanda segera mengerahkan kekuatannya.

Pasukan Ngurah Rai kemudian melakukan Perang Puputan (Pertempuran habis-habisan) yang dimulai pada tanggal 20 November 1946 di Margarana yaitu wilayah sebelah utara Tabanan. Dalam pertempuran habis-habisan itu Ngurah Rai gugur sebagai pejuang bangsa pada tanggal 29 November 1946.

10. Agresi Militer Belanda 1

Agresi militer Belanda 1 diawali oleh perselisihan pemerintah Indonesia dan Belanda akibat perbedaan penafsiran terhadap ketentuan hasil Perundingan Linggardjati.

Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan aksi polisionil yang dikenal dengan Agresi Militer 1 dengan tujuan menguasai sarana-sarana vital di daerah Jawa dan Madura.

Pasukan Belanda bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat dan dari Surabaya untuk menduduki Madura. Berbagai pertempuran pun bermunculan akibat Agresi Militer 1. Tindakan Belanda mendapat kecaman dari negara-negara tetangga dan dunia Internasional.

Pada tanggal 4 Agustus 1947, PBB mengeluarkan perintah penghentian tembak menembak. PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) sebagai badan pengawas gencatan senjata di daerah Indonesia.

Tugas utama KTN adalah mengawasi secara langsung penghentian tembak-menembak sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB. Hingga akhirnya PBB merencanakan sidang antara pemerintah Indonesia dengan Belanda.

11. Agresi Militer Belanda 2

Latar Belakang terjadinya agresi Belanda II disebabkan karena masalah yang timbul pada pelaksanaan Perundingan Renville.

Tujuan Belanda mengadakan Agresi Militer 2 adalah untuk menghancurkan kedaulatan Indonesia dan mengusai kembali wilayah Indonesia dengan cara melakukan serangan militer terhadap beberapa daerah penting di Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia pada saat itu.

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan aksi polisionil ke 2. Belanda menduduki kota Yogyakarta, yang diawali dengan penerjunan pasukan payung di Lapangan Udara Maguwo, serta mengepung dan menghancurkan konsentrasi TNI.

Dalam agresi kedua, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta dan menangkap para petinggi poltik serta petinggi TRI. Tindakan belanda dengan melaksakan Agresi Militer II mendapat kecaman di dunia internasional.

Pada tanggal 7 Februari 1949, Amerika Serikat memberikan simpati kepada Indonesia akibat Agresi Militer II. Amerika Serikat juga mencoba melerai pertempuran Agresi Militer II dengan cara sebagai berikut:
1) Mendesak Belanda untuk membuka kembali perundingan yang jujur dengan Indonesia atas dasar persetujuan Renville.
2) Menghentikan segala bantuan kepada Belanda sampai konflik dengan Indonesia berakhir damai.
3) Mendesak pihak Belanda untuk menarik pasukannya ke belakang garis status quo Renville.
4) Membebaskan para pimpinan Indonesia yang ditawan sejak 18 Desember 1948.

Tak hanya Amerika Serikat, beberapa negara di Asia seperti India, China, Afganistan, Myanmar, dan lain-lain memberikan simpati kepada Indonesia.

Akhirnya Belanda mundur akibat desakan politik Internasional dan Belanda juga menerima kekalahan akibat serangan umum yang dilancarkan pihak Indonesia pada 1 Maret 1949. Indonesia berhasil mengambil alih Yogyakarta dalam waktu 6 jam saja.

Berikut adalah rekam jejak perjuangan para pahlawan terdahulu demi menjaga dan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia Kita tercinta. Kita sebegai penerus bangsa semoga bisa membawa bangsa ini semakin baik kedepannya. Salam Nasionalisme.

Share with your friends

Give us your opinion